Surat Cinta Untuk Film Indonesia

Dear Film Indonesia,

Surat ini dibuat pada setarikh masa di bulan yang dingin diselimuti hujan dan kabut, Januari.

Hai, Film Indonesia. Bagaimana kabarmu sekarang? Kau semakin menggeliat ya? Aku tahu kau berjuang, dan aku tahu perjuanganmu sama sekali tak mudah. Membutuhkan berjuta inspirasi, memerlukan ribuan kata, jutaan orang pandai dan ideal. Tapi, kini kau mulai berdiri, tak lagi merangkak seperti bayi. Kau terus tumbuh dengan pesatnya, menginspirasi dan terinspirasi dari tanahmu sendiri, Indonesia.

Tak pernah aku bayangkan Indonesia tanpa dirimu, Film Indonesia. Akan seperti apa kini raut wajahnya, akan bagaimana gerak langkahnya? Karena bagiku, kau mengandung arti, menyimpan kenangan, berjuta rasa.

Film Indonesia, dirimu sudah aku kenal bahkan sejak masih kanak-kanak. Sejak aku belum mengenal apa itu dunia luar, apa itu animasi, negara-negara, tempat lain selain Indonesia, Karena aku pikir saat itu dunia cuma ada di Indonesia. Dunia itu seperti dalam film Petualangan Sherina, penuh dengan misteri dan kejutan. Namun ternyata kisah hidupku tak se-penuh misteri itu, juga tidak se-penuh kejutan itu. Hanya biasa, dunia nyata. Dan sejak saat itu aku terus berfikir, andai dunia seperti apa yang ada di film, tanpa pernah menyadari, bahwa film itu seperti dunia.

Ketika aku beranjak remaja, aku mengenal Ada Apa Dengan Cinta yang membuatku berfikir, “Ini film, seandainya kehidupanku semenarik film.”, aku jadi ingin membuat film.

Ketika aku dewasa, film Indonesia menyuguhkan banyak sekali kisahnya, romantis yang paling aku sukai. Dan aku suka karena film Indonesia banyak mengangkat kisah dari novel-novel kesukaanku, menjawab khayalanku ketika membaca. Menggambarkan secara nyata dugaanku akan ekspresi, akan suara, pilas warna dalam setiap paragraf buku.

Baru-baru ini dadaku bergemuruh ketika melihat karya yang luar biasa dari anak bangsa. Habibie dan Ainun, mengharukan. Menyentak. Mengalun. Sebelumnya pula aku terpikat dengan Ayat-ayat Cinta. Setiap cakapnya laksana mantra yang menyihir para penonton untuk tetap membuka mata. Semua itu dilahirkan oleh anak bangsa, Indonesia

Teruntuk film Indonesia yang menerima banyak sekali pujian, namun tak sedikit juga hinaan dan nista. Berjayalah selalu, karena tanpa Film Indonesia, kami anak bangsa tak akan mengenal Indonesia. Tanpa film Indonesia, entah akan seperti apa pola pikir anak-anak dan para remaja? Film Indonesia harus ada, karena film Indonesia merupakan cerminan bangsa kita. Dan aku bangga, karena dengan adanya film Indonesia, kami semua baik penikmat film, para produser, penulis, bahkan pemain film sendiri, dapat menciptakan sebuah sajian yang menawan. Hanya satu kata untuk film Indonesia. You are the best, I love you, because I’m Indonesian.

Warm regards,

Gie Elmidas

Standard

Gue dan Greenna

Pada suatu hari gue pernah mengutarakan keinginan gue sama seorang abang yang luar biasa cerewet, padanya gue ungkapkan bahwa gue pengen jadi orang yang terus berkembang, gue pengen ketemu orang-orang hebat, karena gue menyadari untuk jadi orang hebat itu kita perlu mengetahui orang hebat, kalo bisa mah berteman. Hihihihi

Lantas, gue dikenalin sama temen abang gue (fyi: abang gue namanya Darwin, bukan abang kandung, tapi abang di organisasi, bahasa kerennya senior, red). Namany teh Nina, gue inget banget waktu itu sore hari yang agak mendung, kita berempat (gue, teh Nina, bang Darwin dan Gesti (alm)) duduk di DPR (Dibawah Pohon Rindang) buat sekedar ngobrol. Dari situlah teh Nina memperkenalkan komunitasnya, namanya Greenna.

Apa sih Greenna?

Greenna itu komunitas yang memperjuangkan pendidikan lingkungan hidup dan berfokus pada pelatihan pengelolaan sampah dan sanitasi. Greenna ‘menyulap’ sampah plastik bekas kemasan makanan dan minuman menjadi barang yang berguna. Contohnya kayak gini nih….

Image

Siapa bilang ini sampah? Nggak nyangka kan kalau bungkus kopi bekas bisa jadi tas cantik kayak gini? Harganyapun ‘beuh’, lumayan mahal lho… Nah, untuk membuat tas cantik kayak gini teh Nina dibantu oleh ibu-ibu pengajian yang digelar dirumahnya. Ibu-ibu ini diajarkan cara membuat kerajinan dari sampah plastik ini dan juga mengenai lingkungan hidup itu sendiri. Selain ibu-ibu, teh Nina juga mengajak para mahasiswa untuk ikut menjadi volunteer dan juga membantu mengembangkan komunitas Greenna. Nah, dalam kesempatan kali ini Greenna kedatangan tamu dari Jepang langsung lho. Program ini kerjasama antara Greenna (Indonesia) dan Very50 (Jepang).

Image

 

Nah, ini foto mahasiswa Jepang dan Indonesia yang magang di Greenna selama 10 hari. Kegiatan disini membantu Greenna di bidang pemasaran produk sekaligus penyuluhan pendidikan lingkungan hidup dengan sekolah SD, juga bekerjasama dengan TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) untuk pameran buku pendidikan lingkungan hidup.

Selain itu, Greenna juga banyak menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan, pemerintah, dan pesantren di kota dan kabupaten Bogor beberapa kelompok lainnya.

Kesan dan pesan buat gue selama di Greenna, hhmm, ini mungkin jalan yang Allah tunjukkan buat gue yang sesuai dengan keinginan gue. Ketemu orang-orang yang inspiring banget, pengalaman unik dan menarik, dan pastinya rasa syukur karena dikasih kesempatan untuk mengenal Greenna dan ikut mengembangkannya.

Thanks Allah, thank teh Nina, thanks bang Darwin. Semoga gue bisa menambah ilmu dan pengalaman, serta dapat diandalkan disini. Aamiin.

 

Standard

Sebut Saja Bunga

/1/

Dunia mendadak sepi

Terasa hanya ada angin dan diri

Dingin menyepi

Tak tau harus berkata apa pada siapa

 

Sebut saja Bunga

Suatu keindahan yang memancar

Dengan mudahnya berhasil menawan hatiku

Dengan mudahnya merenggut jiwaku

 

Bunga telah pergi menggapai mimpi

meninggalkanku sendiri

Tanpa tahu apa yang terjadi

Aku terpenjara di dalam ruang rindu kepada Bunga

 

Bunga kini semakin indah warnanya

Aku selalu jatuh cinta kepadamu Bunga

Tanpa kau tahu betapa indah dirimu

Tanpa kau tahu betapa ingin kumemilikimu

 

Bunga menyebarkan bau mewangi

Segar setiap hari

Walau jauh masih terasa wangimu

Mengalir di dalam darahku

 

Bunga semakin menawan

Semakin diperebutkan

Semakin menjadi pujaan

Dan aku semakin cinta

 

Dia Bunga

Meski indah tetap memiliki duri

yang melukai jari

dan aku berdarah kembali

Standard

Try to istiqamah

Pertama pake jilbab itu waktu kelas 3 SMK. Dengan penuh pergulatan batin, akhirnya kedua tanganku dengan tegas menata sebuah kerudung di kepalaku. Pendek, kecil. Aku melihat cerminan diriku yang terpantul di cermin, manis.
Saat itu aku berdoa dengan sepenuh hati “Allahku yang Maha Indah, jagalah diriku, aku ingin istiqamah di jalanmu.”
Bergetar hati dan tubuhku, mempertahankan jilbabku…

Try to istiqamah

Image

AMWC: Ke-Cantik-an itu Mutlak!!

Alhamdulillah, hari ini masih bisa menyaksikan film Habibie & Ainun di bioskop terkenal. Twenty One. Nggak rugi, karena film-nya benar-benar seru dan menginspirasi. Ya, menginspirasi untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Eh—emang udah kepikiran jadi ibu rumah tangga yah?

“Jangan bilang bapak soal ini, ya.” Fika menirukan gaya  Ainun di Film Habibie & Ainun tatkala Ainun jatuh sakit ketika memberikan pidato. Kami tertawa, terbahak-bahak malah. Haduuhh, Ainun itu ya, wanita sempurna. Nilainya seratus bagi gue. Cantik, sopan, lemah lembut, pinter, cekatan, telaten. Cara bicaranya? Hmm, sangat menawan. Pantaslah ia kalau disukai banyak lelaki. Karena begitu banyak kelebihan dalam dirinya yang membuat ia terlihat sempurna. Ini MUTLAK. Nggak bisa dipungkiri, bahkan oleh seorang cewek yang nggak mengerti keindahan (maybe?) kayak gue. Ya, gue berani bilang kalau cantik itu harga mati.

Betewe, emang cantik itu apa sih? Definisi cantik itu seperti apa sampai gue ngotot banget kalau sekali cantik ya cantik. Cantik itu nggak relatif, selera-lah yang relatif, sedangkan cantik sama dengan jelek. Harganya mutlak. Nggak bisa ditawar!

“Hahahaaa, nggak pantes banget ya gue ngomongnya kayak gitu.” Timpal Diandra sambil tertawa juga. Aku juga ikut tertawa. Lucu memang. Seorang Isnay Rafika berlaku seperti Ainun, berkata lemah lembut, dia sendiri menjadikan itu lelucon lucu. Biasanya Fika berkata cepat-cepat, ceplas ceplos, bahkan seperti tanpa pikir. Wajahnya? Garang sih kalo lagi marah, berkat matanya yang sipit, dia menghasilkan guratan tajam di matanya. Bibirnya tipis, menandakan dia orang yang cerewet. Tapi kalo lagi senyum, ambooii, cantiknyooo.

Gue sih nggak pernah bertanya sama cowok-cowok, apa Fika itu cantik, lagian kurang kerjaan juga, tapi menurut analisis gue mereka (cowok-cowok) pasti akan setuju kalau gue bilang Fika itu cantik. Titik.

Kalo aku kasih nilai dari 0 sampai 100, Fika dapat nilai 80. Cantik. Ya, banyak yang mengakuinya. Jelas. Bukti-buktinya nyata, saksinya banyak. Contoh studi kasus adalah waktu gue berkunjung ke UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, gue berbicara dengan seorang cowok disana, juga dengan Suci, yang pernah gue lihat beberapa kali jika ada event Mapala. Dia kurang lebih bicara begini:

“Ada bang anak Djuanda juga, namanya Fika. Orangnya cantik, sipit.” Ujarnya sambil tersenyum. Bang Aldi menyeringai.

“Wah, ajak kesini donk. Jangan sendiri aja kesininya.” Ujarnya. Gue tersenyum.

“Iya bang, entar maennya banyakan dah. Sekarang lagi pada sibuk aja di kampus, jadi Cuma ngutus gue deh kesini. Abang juga sekali-kali main lah ke Djuanda. Ngadem.” Gue masih sok asyik dengan cowok bernama Aldi yang baru pertama gue temui, padahal sedikit terluka dengan pernyataan Suci.

Ada bang anak Djuanda juga, namanya Fika. Orangnya cantik, sipit.

Coba kalau kalimat di atas ditambahkan enggak kayak yang ini!

Terkesan iri ya? Baiklah kalau memang gue iri, so what? Nggak boleh gituh? Masalah buat lo (gaya Soimah). FYI, ajakan gue buat abang-abang yang bernama Aldi ini tulus kok, bukan Cuma sebagai obrolan basa basi busuk biar suasana nggak kaku. Kampus gue di Bogor, bukan kota tapi nggak kampung-kampung banget, yang jelas, tempat gue jauh lebih adem dari sini. Jadi kalo gue bilang ke Kampus gue itu numpang ngadem ya emang begitulah adanya.

Oke! Balik lagi ke laptop. Cantik!

Bukan cuma peristiwa di atas yang membuat gue berkesimpulan bahwa seorang Isnay Rafika itu cantik. Pengalaman lain juga ada lho. Kali ini nggak melibatkan anak muda. Jadi, spekulasi gue makin kuat setelah peristiwa yang satu ini.

“Fika yo ndak usah dandan wis ayu kok!”

Tahu nggak? Itu yang ngomong barusan adalah seorang bapak-bapak, mungkin sekitar lima puluh tahunan-lah usianya. Di samping-sampingnya beberapa pemuda yang sebenarnya gue yakin mereka mengangguk mengiyakan, meskipun cuma dalam hati.

Mau tau lagi?

“Fika itu cantik, kalau belum punya pacar juga gue pasti mau.” Kalimat ini terlontar dari Bang Darwin, senior kami di Mapala Djuanda. Pastinya dia bercanda. But, he honest. Fika itu memang cantik, dan seandainya memang dia nggak punya pacar, kemungkinan itu pasti ada.

Tak perlulah hanya dari pernyataan yang membuktikan kalau Fika itu cantik. Kalau menurutku, Fika tak hanya cantik secara fisik, tapi juga hatinya. Pantas saja kalau banyak lelaki yang menginginkannya. Kalau mau tahu, setiap hari pasti ada saja orang yang melakukan pendekatan, datanglah Fika ke suatu tempat, pasti ada yang jatuh hati padanya.

Nggak percaya? Mau gue yakinin sekali lagi??

Orang cantik itu selalu punya kepercayaan diri. Dengan mudahnya ia berekspresi. Menjadikannya pandai bergaul. Membuatnya baik hati. Dan menurut gue Fika itu memang cantik. Luar dalam! (Bungkus Gan!)

Image

Standard